KISAH KAKEK PENJUAL AKSESORIS
Oleh : Atiyyah
Rahma
Usianya
sudah tidak lagi muda, ia selalu ramah kepada pembeli yang menghampirinya,
walaupun hasil dari dagangan aksesorisnya pas-pasan, ia tetap bersyukur dari
hasil yang ia dapat.
Pagi yang akan
menjelang siang saat itu, masih terjadi interaksi antara penjual dan pembeli di
Pasar Bojonggede yang berada dekat dengan Stasiun KRL Bojonggede walaupun tidak
seramai saat pagi hari, masih banyak para pedagang yang bertahan walau cuacanya
sangat panas saat itu.
Salah satu dari pedagang
yang tetap bertahan adalah seorang
lansia yang duduk berjualan disana. Ia menjual berbagai aksesoris, mainan dan
beberapa perabotan rumah tangga. Sejak pagi hingga siang tengah hari ia tetap
duduk disitu. Kakek itu ramah menyapa para pembeli yang menghampirinya meskipun
akhirnya ada diantara mereka yang tidak
jadi membeli barang dagangannya, ia tidak merasa kesal sama sekali dan tetap
tersenyum.
Namanya Aji Abdilah
biasa dipanggil pak Aji, jauh-jauh ia datang dari Cilebut ke Pasar Bojonggede
untuk mencukupi keberlangsungan hidupnya. Pak Aji mengakui bahwa ia tinggal
sendiri dirumahnya. Istrinya sudah meninggal sejak tahun 2013, ia memiliki lima
anak akan tetapi semua anaknya sudah berumah tangga dan tidak tinggal
bersamanya lagi, “Saya punya anak lima tapi sudah berumah tangga semua, mereka
sudah punya kehidupan masing-masing. Kalau dibilang kangen sih ya saya kangen sama mereka,” ujarnya.
Bukan hanya menjual
berbagai aksesoris saja kegiatannya, tetapi ia juga aktif dalam mengajar
sebagai guru agama di Majelis Taklim Ass Saffat yang berada di tempat ia
tinggal. “Saya ngajar di Majelis Taklim di kampung saya. Saya ngajar anak-anak
itu agama,” ujar Pak Aji.
Penghasilan yang ia
dapat dari menjual aksesorisnya pun tak menentu, jika ia beruntung terkadang
dagangannya ramai dan terkadang juga dagangannya sepi, walaupun penghasilannya
yang pas-pasan ia tetap mensyukuri rezeki yang ia dapat dari berdagang
aksesoris tersebut, ia mengakui bahwa itu semua cukup untuk kebutuhannya
hidupnya sendiri, “Kalau untuk sendiri mah
cukup, buat makan buat bayar listrik InsyaAllah
cukup, syukuri sajalah yang kita dapat.”

Komentar
Posting Komentar